Pembagian majrur
http://muhammadyaniishak.blogspot.co.id/2014/08/pembagian-majrur.htmlBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Satu
hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an,
dan bahasa yang digunakan oleh Rasulullah dalam menjelaskan isi kandungan
Al-Qur’an –kitab suci kaum Muslimin. Sehingga Bahasa Arab menjadi bahasa yang
akan tetap ada dan tidak akan pernah hilang dari belahan dunia. Inilah yang
menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban
Islam. Mengenai keterjagaan Al-Qur’an, yang secara otomatis juga keterjagaan
Bahasa Arab, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku yang menurunkan adz-Dzikra
(al-Qur’an) dan Aku lah yang akan menjaganya.” Orang yang ingin menafsirkan
Al-Qur’an maka ia juga harus bisa belajar bahasa arab. Oleh karena itu bahasa
arab sangat penting untuk dipelajari. Ketika belajar bahasa arab, maka juga
harus belajar dan mengerti tentang Al-Asma’ Al-Majrurah. Al-Asma’ Al-Majrurah
sangat penting untuk dipelajari karena digunakan untuk membaca Al-Qur’an dengan
baik dan benar karena Al-Asma’ Al-Majrurah ini sangat menentukan harakat atau
pembacaan Al-Qur’an.. Al-Asma’ Al-Majrurah sering juga disebut dengan isim
majrur. Isim majrur adalah isim yang dijarrkan sehingga selalu dibaca kasrah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Majrur
Majrur artinya yang ditarik atau diturunkan,
dalam ilmu nahwu yang dimaksud adalah isim berharokat jar ( kasroh), tetapi tanda-tandanya bukan
hanya kasroh. Tanda-tanda isim-isim majrur ada tiga; kasroh, fathah, dan ya’ (ي).
B. Contoh
مثالة
|
نوعة
|
علا مة
|
والله
بالملا ئكة
من الصا لحات
|
![]() ![]() ![]() |
الكسرة
|
عن عا ئشة
|
غير منصارف
|
الفتحة
|
بالوالد ين
للمؤمنين
عن أبى هريرة
|
![]() ![]() ![]() |
الياء
|
- Kasroh apabila isim itu mufrad, jama taksir, atau jama’ muannats salim.
- Fathah apabila isim itu ghoiru munshorif, yaitu isim yangtidak bisa menerima tanwin dan tidak ber-alif lam(ال ) misalnya nama orang.
- ”ya”(ي ) apabila isim mutsanna , jama mudzakar salim, atau asmaul khomsah,yaitu isim yang lima:
C. Sebab-Sebab
Majrur
- Apabila didahului salah satu huruf jar.
- Apabila dijadikan ”mudhofun ilaih”
- Apabila mengikuti isim yang majrur lainnya.
Yang di
dahului huruf jar:
Huruf
jar Menurut ahli nuhat itu berbeda-beda jumlahnya.
1.
ب, الباء = dengan,di,karena,/kepada
2.
الي =
ke,bersama
3.
من = dari, diantara,
daripada, di
4.
علي = atas, harus
5.
عن
= dari, tentang, karena
6.
(ك)
= seperti
7.
في =di, dalam,
tentang
8.
ل
= bagi, untuk, karena, kepada
9.
و
= demi, (sumpah)
10.
ت
=demi(sumpah)
11.
رُب =
banyak sekali
12.
مذ
= sejak
13.
منذ
= sejak
14.
حتي
= sehingga, sampai
15.
خلا
= selain, kecuali
16.
عدا
= selain, kecuali
17.
حاس =
selain, kecuali
18.
كى
= supaya
Di antara
huruf-huruf jar itu ada yang termasuk isim, fi’il, atau huruf lain. Yang biasa masuk isim
adalah مذ, منذ
Yang termasuk
fi’il adalah خلا, عدا, حاش artinya
’kecuali.”
Ada lagi huruf
jar yang termasuk huruf lain, seperti ل, كى
semuanya itu adalah hurufnasab. Huruf-huruf ini bila mendahului fi’il menjadi
huruf nasab, bila setelah isim menjadihuruf jar.
Arti huruf jar
di atas itu tidak tetap, tergantung susunan kalimatnya.
D. Isim Majrur
Isim majrur adalah isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari
majrur adalah majruroot. Isim yang terkena I’rab Jarr atau isim yang di jar kan
disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur selalu di baca kasrah.
Macam- Macam
Isim Majrur. Isim
majrur (al-asma’ al-majrurah) terdiri dari :
- Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر)
Huruf jarr adalah huruf yang meng-jarr-kan kata setelahnya. Kata yang terletak setelah Bhuruf jarr adalah isim (kata benda). Kata isim yang terletak setelah huruf jarr harus berharakat kasrah atau berakhiran ya’nun1.(ين)
Huruf jarr terdiri dari beberapa
huruf 2,
yaitu :
- مِنْ (dari)
Contoh :
Saya pulang
dari masjid اَرْجِعُ مِنَ الْمَسْجِدِ
Jika
kata yang terletak setelah من (dari) berupa isim yang tidak disertai al, maka من
dibaca مِنْ. (min/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al, maka من
dibaca مِنَ (mina/nun difathah)
- إِلَى (ke/kepada)
Contoh :
Saya berangkat ke sekolah أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
- لِ (milik/terhadap/karena)
Contoh :
Polpen itu milik zaid الْقَلَمُ لِزَيْدِ
- عَنْ (dari)
Contoh
:
Saya
telah melempar anak panah dari busur رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ
Jika kata yang terletak setelag عن (dari) berupa isim yang tidak disertai al maka عن dibaca عَنْ (‘an/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al maka عن dibaca عَنِ (‘ani/nun dikasrah).
Jika kata yang terletak setelag عن (dari) berupa isim yang tidak disertai al maka عن dibaca عَنْ (‘an/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al maka عن dibaca عَنِ (‘ani/nun dikasrah).
- عَلَى (atas/di atas)
Contoh :
Buku itu di atas meja الْكِتَابُ عَلَى
الْمَكْتَبِ
- كَ (seperti)
Contoh :
Nabi Muhammad SAW seperti bulan
purnama مُحَمَّدُ كَالْبَدْرِ
- فِيْ (di/di dalam)
Contoh :
Para siswa berada di dalam kelas التَّلَامِيْذُ
فِيْ الْفَصْلِ
- بِ (dengan/sebab)
Contoh :
Saya menulis pelajaran dengan
polpen. كَتَبْتُ الدَّرْسَ بِالْقَلَمِ
- مُذْ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari
Jum’at مَارَأَيْتُكَ مُذْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
- مُنْذُ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari
jum’at مَارَأَيْتُكَ مُنْذْ يَوْمِ الْجْمُعَةِ
- رُبَّ (sedikit/banyak)
Contoh :
رُبَّ قَارِءِ لِلْقُرْاَنِ وَالْقُرْاَنُيَلْعَنُهُ
رُبَّ قَارِءِ لِلْقُرْاَنِ وَالْقُرْاَنُيَلْعَنُهُ
Banyak orang yang membaca Al-qur’an
tetapi AL-Qur’an itu malah melaknatinya
- حَتَّى (sampai/hingga)
Contoh :
سَلَامٌ هِيَ حَتَّ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
( القدر : ه )
Artinya : “malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 5)
- تَ / بِ / تَ (demi)
Contoh :
بِاللَّهِ / وَاللَّهِ / تَاللَّهِ لأَصُوْمُ مَنَّ غَدًا
بِاللَّهِ / وَاللَّهِ / تَاللَّهِ لأَصُوْمُ مَنَّ غَدًا
Demi allah, besok saya akan berpuasa.
- حَاشَا / عَدَا / خَلَا (selain)
Contoh :
دَخَلَ التَّلَامِيْذُ الْفَصْلَ حَاشَا / عَدَا / خَلَا زَيْدً
دَخَلَ التَّلَامِيْذُ الْفَصْلَ حَاشَا / عَدَا / خَلَا زَيْدً
Semua siswa telah masuk kelas
selain zaid.
- Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. (مضاف إليه)
Isim
yang berkedudukan sebagai mudhaf ilaih Contohnya yaitu:
- اشتريتُ خاَتِمَ حديدٍ (Isytaroitu khotima hadiidin) =
Saya membeli cincin besi.
Kata حديدٍ (= besi) merupakan mudhof ilaih, karena disandarkan kepada خاَتِمَ (= cincin) yang maknanya cincin yang terbuat dari besi. - رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) –> رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
- أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) –> أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]
Mudhaf
Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa
dalam bentuk Marfu’, Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam
kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
= berkata Rasul Allah
أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ
= saya mencintai Rasul Allah
نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ
= kami beriman kepada Rasul Allah
Dalam contoh-contoh di atas, Isim رَسُوْل merupakan Mudhaf
dan bentuknya bisa Marfu’ (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun
Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam
bentuk Majrur.
Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti
Zharaf.
يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ
= mereka duduk-duduk di depan rumah
أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
= aku berdiri di bawah pohon
Dalam
contoh di atas, Isim الْبَيْتِ (=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ (=pohon) adalah
Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di
depan) dan تَحْتَ (=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan
Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.
Isim-Isim Yang Mengikuti Isim-Isim Majrur
Yang dimaksudkan dengan tawa-bi’ pada isim-ism yang majrur, ialah isim-isim yang mengikuti kedua isim majrur di atas.
Yang dimaksudkan dengan tawa-bi’ pada isim-ism yang majrur, ialah isim-isim yang mengikuti kedua isim majrur di atas.
Macam tawabi pada isim yang majrur.
Macamnya sama dengan tawabi pada isim-isim yang marfu’ dan
mansub yaitu ada lima yaitu na’at taukid, badal, athaf bayan, dan ma’thuf.
Karena sama dengan yang terdahulu, maka pada pembahasan disini kami hanya
mengemukakan satu dua contoh saja bagi setiap macam.
- Naat
- Pergilah kepada orang-orang yang saleh itu = اَذْهَبُ اِلَى الرَّجُلِ الصّا لح
- Kitab-kitab mahasiswa yang rajin banyak = كتب الطا لب المجتهد كَثِيْعَةٌ
- Ta’kid/tauhid.
Contoh :
- Saya mendatangi mereka saja = جِئْتُ اِلَى التَّلَا مِيْذِ اَنْفُسِهِمْ
- Saya berbakti kepada orang tua kedua-duanya=بَرَرْتُ بِا الْوَالِدَيْنِ كَلِيْهِمَا
- Badal.
- Badal mutha-biq.
Contoh :
- Sungguh akan kami tarik ubun-ubunnya =لَنَسْفَعًا بِا لنّا صِيَة نَا صِيَةٍ
- Ubun-ubun orang yang dusta lagi salah =كَا ذِبَةٍخَاطِئَةٍ
- Puji-pujian hanya bagi Tuhan semesta alam =اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ
- Badal ba’di min kul.
Contoh :
- Islam dibina atas lima dasar, syahadat =بُنِىَ الْا سْلَامُ عَلُى خَمْسٍ شَهَا دَةٌ
- Mereka bertanya tentang bulan-bulan haram berperang di dalamnya = يَسْأَ لُوْ نَكَ عَنِ السَّهْرالْحَرَام قِتَالٌ فِيْهِ
- Badal Isytimal
Contoh :
Mengagumkan saya si Ali, akhlaknya
yang mulia itu = اَعْخَبَنِىْ عَلِىٌّ خُلُقُهُ اَلْكَرِيْمٌ
- Badal muba-yin
Contoh :
Saya pergi ke masjid sekolah = خِئْتُ
اِلَى الْمَسْخِدِالْمَدْرَسَةِ
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Majrur artinya yang ditarik atau
diturunkan, dalam ilmu nahwu yang dimaksud adalah isim berharokat jar ( kasroh), tetapi tanda-tandanya bukan
hanya kasroh. Tanda-tanda isim-isim majrur ada tiga; kasroh, fathah, dan ya’ (ي).
Isim majrur adalah
isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari majrur adalah majruroot. Isim yang terkena
I’rab Jarr atau isim yang di jar kan disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur
selalu di baca kasrah. Macam-macam isim majrur yaitu :
- Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر), terdiri dari مِنْ (dari), إِلَى (ke/kepada), لِ (milik/terhadap/karena), عَنْ (dari), عَلَى (atas/di atas), كَ (seperti), فِيْ (di/di dalam), dan lain-lain.
- Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf
Ilaih. (مضاف إليه)
Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.
B. Saran
Demikianlah pemaparan makalah ini semoga bermanfaat bagi
yang mempelajarinya. Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk perbaikan
di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Basith, Abdul. 2009. Ilmu Nahwu. Yogyakarta : Madrasah
Diniyah PP. Wahid Hasyim.
http://www.freewebs.com/arabindo/w08.htm.
No comments:
Post a Comment